Posted by: Yuda Hananta | December 21, 2006

Identity

malam jumat yang dingin, aku barusan pulang makan malam ma airen-ku di sebuah resto ikan bakar di kawasan seturan, Mai-Mai namanya. feel like home bgt. interior, menunya, pelayanannya, semua hal mengingatkanku tentang Bali. airen-ku yang notebene ga suka makan ikan (keliatan pas tadi aku ajak, aura-nya males bgt)…ternyata begitu terpukau dengan tu resto, bahkan sejak beverage-nya dihidangkan (es teh biasa aj si, tapi penampilannya wah…gelas jumbo, dengan sebatang serai dijadiin semacam garnish…hmm)..dan pas makanannya dihidangkan, speechless untuk beberapa saat…sumpah, kayak di rumah bgt. ikannya, pelecingnya, sambelnya…kalo pak Bondan bilang…mak nyuss…dan suasananya tu lho…cahaya kuning redup dari lampu minyak, dinding batu bata, gantungan janur2…

afterall bikin aku kangen ke Bali…yah, walo bapak udah ga ada, dan ibu juga benernya bukan orang Bali…aku still merasa bahwa Bali tu rumah-ku bgt. walo aku ga pernah lebih dari sebulan tinggal di sana, walo aku bukan orang Hindu, walo aku ga terlalu ngerti kalo ditanya macem2 soal adat…aku tetep ngerasa ada tempatku pulang di Bali. dan sekarang, sepertinya rasa kangen itu yang dorong aku nulis blog malem2 gini. kangen semua hal itu.

setaun belakangan ini, memang rasanya aku begitu berjarak dengan tempat itu. aku ga pernah bisa mengakui diriku adalah orang Bali di depan orang lain. cuma bapak yang Bali totok, ibu-ku orang Jawa tulen. bukan mempermasalahkan agama, tapi setiap orang yang tau nama panjangku selalu mengernyitkan dahi saat mendengar penjelasan itu. bahasa Jawa-ku jauh lebih lancar daripada bahasa Bali. soal agama (maap), aku muslim (yg walopun blom bisa jadi begitu taat), bukan hindu. aku tinggal di luar kota Solo, bukan di Denpasar. bahkan kadang aku jadi malu kalo ada kenalan yang sebenernya bukan orang Bali (maksudnya ga ada keturunan Bali sedikitpun), cuma karena tinggal di Bali…mereka lebih tau tentang Bali, bisa fasih bahasanya.

pas bapak ga ada, aku bukan cuma kuwatir kehilangan sosok seorang ayah, tapi juga takut kehilangan separuh identitasku, keluargaku. bagaimanapun darah bapak yang mengalir di diriku, tapi karena selama ini boleh dibilang aku memang ga dekat dengan Bali, kondisi itu semakin parah, jarak itu semakin jauh karena rasanya sekarang ada missing link antara aku dan keluargaku di Bali. kangen banget dengan saat-saat seperti dulu, pulang ke Bali bareng2 bapak, ibu, adek (plus airen-ku kalo pas itu ada)…ke tempat sodara2, piknik keliling2 Bali, …).

sekarang, aku jadi semakin ragu dengan identitas Bali-ku. apakah hanya karena namaku “Bali banget” makanya, aku akan selalu dibilang orang Bali dengan konsekuensi2nya? bahkan aku menolak ikut upacara potong gigi, aku ga pernah pulang pas Nyepi, dan ujung2nya aku menolak saat bapak akan di-aben,…rasanya ga ada sedikitpun sisi Bali dalam diriku. menyakitkan, merasa memiliki relasi yang erat, tapi sebenarnya tidak. aku merasa Bali adalah rumah, tapi aku ga pernah menaati aturannya. aku takut kehilangan identitasku, tapi aku sendiri yang menghapusnya.

pada akhirnya, aku cuma berharap bahwa keadaan ga akan lebih buruk lagi. Bali adalah tempat yang indah, aku beruntung memiliki setidaknya ayah orang Bali. ..Jawa telah jadi habitatku 20 tahun terakhir ini, karena itu aku pun akan tetap “mikul dhuwur mendhem jero” terhadap kedua orang tuaku, bapak dan ibu. seperti orang Bali dengan moralitas dan jiwa seni yang diajarkannya, dengan loyalitas dan keberaniannya. seperti orang Jawa dengan sopan santun dan keramahannya, dengan keluhuran budi dan pengabdiannya.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.