Menyaksikan seseorang merokok di tempat umum, mungkin jadi suatu pemandangan yang lumrah di masyarakat Indonesia. Kebiasaan merokok di Indonesia sudah merasuk ke berbagai lapisan masyarakat, tanpa memandang usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, pekerjaan dsb.
Aku tinggal di daerah yang mempunyai kultur merokok yang kental. Bukan karena terletak di pegunungan yang berhawa dingin, atau karena berada di sekitar pabrik rokok, tetapi semata-mata karena budaya. Penduduk di kampungku, memadang rokok sebagai komplemen bersosialisasi, sehingga kehadirannya selalu mewarnai acara-acara kenduri, resepsi kawinan, ta’ziah, bahkan sekedar teman nongkrong di pos kamling.
Bapakku seorang perokok dan aku sudah menjadi perokok pasif sejak aku bayi, aku “bertugas” membeli rokok buat bapak, bermerek dj***m s*p*r sejak harganya Rp 750,- per bungkus hingga mencapai Rp 5.000,- per bungkus. “Tugas” ku itu berakhir bersamaan dengan perginya beliau untuk selama-lamanya, dan bukan menyalahkan, tetapi rokok kemungkinan besar jadi salah satu anggota persekongkolan jahat yang mengalahkan bapak.
Pada waktu SMP, saat aku cukup aktif di organisasi sekolah (OSIS, Pramuka, dll) temen-temenku, yang meski pada waktu itu masih berusia belasan, adalah perokok aktif. Tidak peduli seberapa dalam saku harus dirogoh untuk mendapatkan satu-dua batang kenikmatan dari sisa-sisa uang jajan yang diberikan orang tua.
Masa SMA dan kuliah pun tidak jauh berbeda, aku berteman dan bergaul pula dengan perokok aktif, hanya saja asertivitasku berkembang sedemikian rupa sehingga aku bisa meminimalisir paparan asap beracun itu.
Namun, asertivitasku terusik kembali akhir-akhir ini. Jujur, aku bukannya membenci perokok, aku hanya tidak menyukai asapnya terpapar padaku. Merokok adalah hak asasi seorang manusia, mengingat ulama yang masih ragu untuk mengharamkannya, dan pedang hukum yang tumpul, maka para perokok masih dapat berlindung di balik tameng HAM.
Tinjauan medis yang selama ini jadi andalan untuk mematahkan argumen para perokok, karena memiliki penjelasan paling masuk akal, ternyata juga tak mampu membuat perokok bergeming. Mau tau kenapa? Coba tengok di sekitar anda, apakah anda pernah melihat sendiri mereka yang berjas putih itu menghisap rokok dan mengepulkan asapnya kembali dengan nikmatnya? atau coba tengok kantin-kantin dan tempat makan di dalam dan sekitar RSUP Dr.Sardjito, anda akan dengan mudah menemukan “malaikat putih” itu tergelak mengepulkan asap. Saya mengenal beberapa dari mereka, dan bukannya marah, saya justru sedih melihat fakta itu. Saya melihat performa mereka di klinik, kampus, maupun forum ilmiah, dan itu membuat saya mengagumi mereka : saat mereka menangani pasien, memeriksanya dengan seksama dan memberikan pengobatan dan nasihat demi kesehatan pasiennya. Bukannya seketika jadi ill-feel, saat melihat orang itu merokok untuk pertama kalinya, saya justru bingung dan penasaran. Kenapa dia melakukan hal itu? Seingatku selama kuliah, tak terhitung berapa kali dijelaskan bagaimana rokok menjadi faktor risiko atas berbagai penyakit : cancer, penyakit kardiovaskuler, stroke, dll. Atau justru pelajaran2 itu layaknya butir-butir P4 yang dulu pernah kita hapalkan saat duduk di Sekolah Dasar tanpa tahu maknanya.
Beberapa pakar psikologi pernah menyampaikan bahwa merokok bisa jadi suatu wujud perilaku obesesif kompulsif. Obsesif karena dilakukan karena adanya dorongan (obsesi) yang harus dilampiaskan, dan kompulsif karena hal itu dilakukan secara berulang-ulang. Jadi jangan keliru, gangguan jiwa bukan hanya dalam wujud seorang gila yang jalan-jalan telanjang di jalanan. Perokok aktif pun bole jadi sebenarnya mengalami gangguan penyalahgunaan tembakau (lihat Petunjuk Pedoman Diagnosis Gangguan Jiwa punya Indonesia atau DSM IV punya Amerika).
Jadi menurut saya, jika anda seorang yang tidak merokok dan anda mengenal/dekat dengan seorang perokok aktif, jangan justru menjauhi mereka. Para perokok aktif adalah orang-orang yang perlu dibantu dan perlu dukungan.
Sebagai koass yang sedang stase di psikiatri (hehehe…) berikut saya sampaikan sekelumit tips, apa yang harus kita lakukan untuk membantu temen-temen perokok (saya ambil dari buku Pedoman Pelayanan Kesehatan Mental di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer terbutan Departemen Kesehatan RI) :
1. Bagi mereka yang ingin berhenti merokok sama sekali
- Tetapkan target suatu hari untuk berhenti merokok sama sekali. Sebuah penelitian membuktikan bahwa menghentikan rokok sama sekali seketika lebih manjur untuk benar-benar berhenti merokok dibandingkan menghentikan secara bertahap.
- Mencoba mengalihkan perhatian atas rokok ke aktivitas lain. Misalnya kebiasaan merokok setelah makan, dicoba diubah dengan membaca koran, dsb. Pemberian reward/hadiah atas pencapaian dalam menghentikan kebiasaan merokoknya mungkin perlu dipertimbangkan.
- Pada awalnya perokok tentu akan cemas dan merasakan hal-hal yang tidak enak, tapi tanamkan kepercayaan bahwa itu semua akan bisa dilalui tanpa mencoba meredakannya dengan rokok.
2. Untuk mereka yang sekedar ingin mengurangi kebisaan merokok
- Tetap berikan semangat, setidaknya mereka memiliki kesadaran bahwa kebiasaan merokok tsb kurang baik (entah dari pertimbangan medis, ekonomis, sosial, dll) dan hargailah hal tsb. Dengan keinginan mengurangi ini proses menghilangkan kebiasaan merokok juga lebih mudah karena berasal dari niat perokok itu sendiri.
- Tetapkan target. Misalnya berapa batang sehari yang ditolerir, atau hari-hari tertentu tanpa rokok sama sekali. Target ini dapat dievaluasi sekiranya perokok merasa bisa meneruskan usaha mengurangi kebiasaan merokoknya ke tingkatan lebih lanjut.
- Langkah-langkah pengalihan perhatian dan hadiah (reward) dapat pula ditempuh.
3. Untuk mereka yang belum mau berhenti merokok
- Jangan mengungkapkan kekesalan atau ketidak-sukaan pada mereka. Yang kita perangi adalah rokok, para perokok tsb adalah orang-orang yang kita sayangi. Jangan memaksa, karena mari kita sadari bersama, beberapa orang dapat dengan segera menghentikan kebiasaan merokoknya, tetapi beberapa yang lain memerlukan waktu lebih lama.
- Terus sampaikan hal-hal berkenaan dengan langkah-langkah berhenti merokok dengan cara-cara yang baik dan tidak menyinggung perasaan.
- Hingga mereka memiliki niat berhenti merokok tetap perlakukan mereka dengan baik, seperti layaknya teman-teman dan orang-orang yang kita sayangi lainnya.
Mudah ditulis dan diucapkan tetapi susah dilakukan. Memang pada umumnya seperti itu persepsi kita begitu mendapatkan saran-saran psikologis. Tetapi buat saya pribadi, toh tidak ada salahnya dicoba. Semua demi kebaikan kita bersama.
NB : posting ini specially dedicated buat Airen-ku yang juga sangat concern soal rokok, semangat ya ngerjain penelitiannya!! dan buat Sari, temen wira-wiriku selama koass, aku salut buat asertivitasmu memperjuangkan hak bernafas bagi kita…semoga kalo kamu baca kamu bisa mengerti maksud posting ini…
Recent Comments