Posted by: Yuda Hananta | May 31, 2008

Stigma

Saat ini aku udah melewatkan minggu pertama di stase obgyn, tetapi baru sempat bikin flash-back tentang pengalaman yang kudapatkan di stase-ku sebelumnya, stase kedua setelah THT yaitu ilmu kedokteran jiwa atau lebih keren disebut psikiatri…
Awalnya aku begitu bersemangat saat akan memasuki stase psikiatri, secara aku masih membawa euphoria koass baru, dan lagi ilmu jiwa adalah favoritku dari sejak SMP (dulu sebenernya aku ogah jadi dokter, pengennya jadi psikolog…hehe). So i’m well prepared saat mo masuk psikiatri…aku udah berusaha melengkapi referensi bacaan, mulai dari buku wajib perpus psikiatri, “mahaguru” PPDGJ (Petunjuk Pedoman Diagnosis Gangguan Jiwa) dan Kaplan n Saddock yang filosofis, super berat n super tebal…terus, aku udah juga berguru pada konsultan pribadiku yang selalu setia tanpa jenuh menularkan ilmunya kepadaku,…pokoknya aku yakin sekali psikiatri bakal menjadi stase yang menyenangkan buatku.
Pemikiranku itu boleh jadi berseberangan dengan sebagian besar teman-teman koass yang laen…biasanya para mahasiswa kedokteran yang begitu dekat dengan dunia ilmiah kurang menyukai ilmu jiwa yang terkesan “absurd”. Memang, jiwa tu ga kelihatan, jadi susah mempelajarinya…tetapi akhirnya kesulitan mempelajari itu diubah menjadi kesan bahwa ilmu jiwa itu tidak penting. Tentu pemikiran idealis menyatakan pendapat bahwa ilmu jiwa itu tidak penting adalah salah besar…tetapi kenyataannya tidak banyak dokter yang menerapkan pendekatan psikologis dalam hubungan terapeutik dengan pasien.
Bukannya memiliki ide kebesaran, tetapi aku berniat mengubah persepsi bahwa ilmu jiwa itu tidak penting, dan aku berpikir kesempatannya adalah saat aku di stase psikiatri kemarin, dimulai dari kelompok kami.
Ditinjau dari kegiatan sehari-hari di klinik…bole jadi stase jiwa adalah salah satu yang sangat permisif…meski ada jadwal jam kerja, ada agenda kegiatan hari itu (presentasi kasus, diskusi, baca buku, baca jurnal, dll), kegiatan poli dll…tetapi kenyataannya koass kurang bisa berpartisipasi dan kurang dikoordinir dalam kegiatan itu…contoh : saat presentasi kasus koass tidak punya hak bicara, di poliklinik koass hanya boleh memperhatikan pemeriksaan yang dilakukan dokter residen, saat jaga bangsal tugas utama koass adalah menjaga agar pasien tidak kabur…memang hal itu dilatarbelakangi kenyataan bahwa memang kami sudah dewasa, dan selain itu kami sudah dibekali seperangkat buku guideline untuk memandu kegiatan selama di bagian jiwa, sudah sepatutnya kami mengatur jadwal sendiri (kapan harus diskusi, perlu ikut presentasi kasus atau tidak, perlu ikut pemeriksaan ke poliklinik atau tidak, dll..) tetapi di sisi lain, rasanya kami dibiarkan tanpa arah, tidak diacuhkan, dan lebih parahnya  dianggap tidak eksis…
Hal semacam itu tidak hanya terjadi saat kami di rumah sakit Sardjito tercinta, tetapi juga saat kami keluar kota, yakni ke rumah sakit jiwa Magelang. Aku sudah begitu bergembiranya saat tahu bahwa aku dapat jatah tugas kesana, RSJ Magelang termahsyur karena pelayanannya yang bagus, kapasitas yang besar, dan terutama wisma perawatan NAPZAnya. Tetapi kenyataannya, 5 kali mondar-mandir Jogja-Magelang, setiap disana kami dibiarkan lontang-lantung…Belom lagi saat nama baek almamater kami dihancurkan saat presentasi kasus di hadapan staff RSJ Magelang dan teman koass dari almamater laen, sakit hati tentu saja, karena selama disana pun kami tidak mendapatkan bimbingan yang adekuat, dibiarkan bekerja dengan sendiri, terserah apapun yang mau dilakukan…
Atau memang demikiankah sistem pendidikan klinik? Koass diberi keleluasaan sebebas-bebasnya, meski tersesat, tanpa ada yang mendampingi dan mengingatkan, hanya berbekal referensi yang diminta mencari sendiri?? Kalau memang demikian, maka benar saja, koass perlu kematangan pribadi dan kemandirian ekstra…dimarahi dan ditegur karena melakukan kesalahan saat bertugas tu tidak lebih menyakitkan daripada tidak diacuhkan, dianggap tidak eksis, dianggap tidak punya peran, hanya merepotkan…
Namun selaen segala keluh kesah di bagian jiwa, aku masih menyukuri kebahagiaan yang kurasakan pula : wisata kuliner (Kupat Tahu Pak Pangat, Ayam Kosek, Ayam Ninit, dan Soto Kudus di Magelang…Pesta seafood di pantai depok, de el el..), home visit bareng-bareng ke rumah pasien yang melatih rasa empati kami sekaligus membuat kelompok koass-ku ni menjadi semakin solid…maen pingpong bareng pasien di bangsal…nge-MC di acara games buat warga binaan di Panti Sosial Bina Karya…
Akhirnya, setelah menyelesaikan tugas di stase jiwa…dengan berat hati aku merasa banyak yang harus dibenahi pada sistem pendidikan klinik di bagian jiwa. Rasanya jika pembenahan tsb tidak dilakukan maka citra ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) yang kurang menarik akan terus menempel dan menjadi stigma di kalangan mahasiswa kedokteran. Tetapi buatku, ilmu jiwa tetaplah menarik dan sangat penting dipelajari,terlepas bagaimana cara kita mempelajarinya…guru kita tidak harus berwujud manusia berjas putih, tetapi juga adalah mereka yang dalam wujud pasien berseragam ungu di bangsal psikiatri, buku-buku koleksi perpus yang dipelajari turun temurun, dari teman-teman kita, bahkan dari diri kita sendiri…

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.