Dokter secara klasik selalu diidentikan dengan sebuah setting klinik, dimana dia bertemu dengan pasien, mendengarkan keluhan-keluhan pasiennya, mencari sebanyak mungkin tanda dan gejala, menegakkan diagnosis, menjalankan terapi, menyusun prognosis, mengevaluasi perkembangan tanda dan gejala, mengevaluasi diagnosis, evaluasi terapi dst…
Ilmu kesehatan masyarakat (IKM) boleh jadi merubah, ato setidaknya me-refresh pandangan tersebut. Karena masyarakat adalah kumpulan dari individu-individu, ilmu kesehatan masyarakat mencoba memecahkan masalah kesehatan melalui pendekatan kelompok masyarakat bukan per individu. Dengan pendekatan kelompok, diharapkan upaya kesehatan lebih diarahkan ke arah preventif bukan lagi sekedar kuratif. IKM juga membuka mata bahwa pelayanan kesehatan toh tidak lepas dari pengaruh aspek-aspek laen, termasuk kebijakan pemerintah, ekonomi, dan sosial-budaya.
Hal-hal yang diajarkan bidang ilmu kesehatan masyarakat ini benar-benar terasa saat aku di stase IKM. Aku dan teman-teman sekelompokku mendapat tugas mengevaluasi kondisi kesehatan masyarakat di wilayah RW 01 Suryowijayan di Kecamatan Mantrijeron Kota Yogyakarta. Mulai dari perijinan dalam rangka penelitian khususnya di Puseksmas Mantrijeron yang sangat birokratis dan berbau pemerasan hingga peliknya masalah kesehatan dihadapkan lokasi pemukiman yang terbatas. Pada waktu itu kami sepakat mengangkat “wabah” diare yang sempat santer disebut-sebut beberapa waktu di wilayah tersebut. Wilayah RW 01Suryowijayan berada di pusat kota, merupakan kawasan pemukiman yang sangat padat, dan berada di pinggir sebuah sungai yang cukup besar. Dengan kondisi demikian, ada beberapa hal yang dapat menjadi faktor resiko merebaknya diare. Diare, memang tidak semuanya karena infeksi, tetapi secara umum jika diare disebabkan infeksi virus, bakteri, atau parasit, adalah penyakit yang dapat menular dan merebak luas melalui pencemaran air, tanah, dan bahan makanan.
Dalam stase IKM ini, melalui sebuah kuesioner, kami bermaksud mengevaluasi pengetahuan, sikap, dan perilaku warga Suryowijayan, khususnya ibu-ibu, mengenai diare. Kenapa ibu? karena dari tangan seorang ibu-lah seluruh anggota keluarga menyantap makanan, tangan ibu yang membelai anak-anaknya, mendidik, dan memberi keteladanan,sehingga jika baik seorang ibu, harapannya baiklah keluarga itu.
Perhatian khusus kami berikan pada perilaku cuci tangan, karena cuci tangan yang baik dan benar cukup efektif mencegah penularan banyak macam penyakit, mulai dari disentri hingga flu burung. Karenanya kami pun berbagi cara mencuci tangan yang baik dan benar kepada ibu-ibu tersebut melalui sebuah penyuluhan kesehatan.
Semoga sedikit yang kami bagikan kepada warga Suryowijayan kemaren benar-benar melekat di benak mereka, bukan tentang kunjungan kami, tapi tentang arti pentingnya menjaga kesehatan dimanapun dan kapanpun. Meski berjuang keras dengan analisis statistik dan metodologi penelitian yang bagi kami belum juga terbiasa hingga hari ini, di sisi lain aku pribadi berharap semoga pengalaman kemaren menjadi bekal berharga untuk mengabdikan ilmuku nantinya, karena seorang dokter umum memikul pula tanggung jawab sosial, menjadi seorang 5-stars doctor (health provider-decision maker-comunity leader-communicator-manager)
Posted by: Yuda Hananta | August 26, 2008
Five Stars Doctor
Posted in Tentang dokter dan pemikirannya
Recent Comments