Beberapa waktu terakhir, aku dan airen-ku sedang dihadapkan pada “hasrat” berwisata kuliner yang meluap-luap (maaf, bahasanya lebay…). Bukan karena Pak Bondan Winarno, tapi kami memang sama-sama menggemari hal yang satu ini, itu pula yang membuat hari-hari seru. Aku dan airen-ku sering cekikikan berdua saking senangnya saat membaca buku ato majalah tentang wisata kuliner di Gramedia ato Toga Mas (2 toko buku yang paling sering kami kunjungi). Google dan berbagai search engine sering kami isikan dengan keyword “kuliner jogja, solo, warung makan jogja, dll”. Menjelajahi berbagai wilayah asing buat sekedar mencicipi makanan khas-nya pun sering kami lakukan. Kalau kebiasaan ini membuat anda geleng-geleng karena merasakan keanehan, maka bersiap-siaplah karena cerita ini baru dimulai. Cerita apa? masih tentang kuliner…Jadi begini, seperti sudah saya sampaikan di posting-an sebelumnya, bahwa saya ingin mengatur ulang pola makan saya untuk memperbaiki Body Mass Index-ku (Indeks Massa Tubuh yang rumusnya : Berat Badan dlm Kg/(Tinggi Badan dlm meter)kuadrat). Oleh karena itu berdasar “konsultasi” dengan beberapa ahli gizi kenalanku, dan referensi dari sumber2 yang kredibel aku memutuskan untuk menyusun suatu pola makan yang berbeda dengan biasanya : rendah kalori, tinggi serat, cukup protein, rendah lemak. Yang kemudian dijabarkan dalam menu-menu yang akan kukonsumsi setiap hari-nya. Sebenarnya untuk memenuhi pola makan itu tidak akan terlalu sulit, karena aku memang cenderung menyukai sayuran, buah, dan kurang menyukai makanan hewani (percaya nggak percaya, saat SMA dulu aku pernah bergaya hidup “vegetarian” selama beberapa lama). Tetapi tantangannya justru berasal dari eksternal :
1. di lingkungan tempat tinggalku di daerah sekitar ugm, menu makanan yang disajikan berbagai warung makan hampir sepola, misal nasi kuning, gudeg, bubur untuk sarapan; nasi sayur, soto, bakso untuk makan siang; penyetan, mie goreng, nasi goreng untuk makan malam. Berdasar hal tersebut dan mengingat aku adalah anak kos yang selalu makan di warung, maka aku akhirnya “terpaksa” memilih-milih tempat makan, terutama untuk makan malam (betapa susahnya mencari sayur saat malam di jogja, kecuali ya cap cay…).
2. masih terkait dengan perilaku-ku memilih-milih tempat makan, akhirnya membuatku harus berkompromi dengan airen-ku, ya mengingat aku hampir selalu makan bareng dia. Dia sempat kelabakan juga menghadapi kebiasaan baruku ini (buat airen-ku : maap ya…), tetapi garis besarnya dia mengerti, dan akhirnya menganjurkanku untuk membuat list makanan yang mau aku makan (menurutku pribadi rada konyol sih hal ini, masak makanan saja harus di-list), tapi setidaknya aku membuat list dalam kepalaku : gado-gado, pecel, lotek, siomay, nasi sayur, cap cay…hehe aneh bin lebay kan?
Hingga suatu hari (beberapa hari kemarin), aku kena bumerang yang kulempar sendiri. Ceritanya, saat suatu sore aku dan airen-ku jalan-jalan keliling jogja tanpa arah tujuan, kami melihat baliho sebuah toko roti bertajuk “Hanis” di daerah Gedong Kuning. Tulisan di baliho itu mengingatkan airen-ku tentang sebuah toko roti yang juga memiliki sebuah tempat makan di Jalan Palagan Tentara Pelajar (Monumen Jogja Kembali ke utara) yang pernah dia baca bahasannya di sebuah majalah saat airen-ku lagi di Jakarta. Dia bilang di majalah kuliner itu, dikatakan toko roti Hanis tu istimewa, tempat makannya bagus dan direkomendasikan oleh si penulis. Tanpa pikir panjang, karena waktu juga sudah beranjak malam, kami tancap gas, melintas dari Gedong Kuning di Jogja bagian selatan menuju Jalan Palagan di bagian utara Jogja. Saat memasuki halamannya, keraguan mulai bergelayut. Toko dan restoran Hanis tidak mencolok, terletak agak masuk ke dalam dari jalan utama, tetapi terlihat begitu eksklusif dengan lampu temaram dan furnitur yang mewah. Kepalang basah, kami memutuskan tetap masuk. Dengan gugup kami menuju ke sebuah ruang dimana di-display-kan roti produk mereka. Terpampang aneka nama roti yang terkesan bergaya Eropa : pretzel, waffel, dll. Kelihatannya enak, hanya sayang kami kurang beruntung sore itu karena roti2 tsb sudah terjual habis. Aku dan airen-ku saling berpandangan menentukan langkah selanjutnya, ”pulang aja? atau mau makan malam sekalian?” kami berbisik2…dengan keraguan yang masih dalam, kami memutuskan sekalian makan malam disana…kepalang tanggung sudah sampai kesana, lagian itung2 mencicipi makanan di tempat baru. Tempat makannya memang menyenangkan, di sampingnya terhampar sawah dengan padinya yang masih hijau, lampunya tidak terlalu terang, sayup2 terdengar alunan lagu-lagu pop barat era 90-an. Tetapi begitu disodorkan menunya, aku pribadi langsung terhenyak (entah, Airen-ku berpikir apa)…pertama karena sampai detik itu kami baru menyadari kami berada di sebuah restoran, bukan sekedar warung makan, sebuah restoran bergaya Belgia-Jerman yang saking ekslusifnya sehingga konon dinobatkan menjadi restaurant of the month versi sebuah majalah wisata di Jogja!! Keekslusifan itu yang berharga mahal, apalagi aku hanyalah seorang mahasiswa yang belum juga berpenghasilan. Ya wes, seorang jagoan, maju terus pantang mundur. Aku membaca dengan cermat menu tersebut, memilih yang paling ekonomis dan tentunya dengan unsur hewani seminimal mungkin, dan pilihan jatuh kepada fried banana !! pisang goreng?? iya, hanya saja deskripsi menunya yang membuatku tertarik (fried banana with chocolate-caramel sauce, scoops of vanilla ice cream, and slices of fresh fruit, yang sebenarnya adalah dessert, hehe…). Airen-ku memilih Hanis salad, entah apa pertimbangannya, mungkin karena namanya, dia berpikir itu menu original resto tsb, karena setauku dia tidak terlalu suka sayur. Saat makanan yang kami pesan datang, wajahku sedikit sumringah, ya…seperti yang kubayangkan si fried banana memang tampil cantik, dengan es krim vanilla yang mulai meleleh, saus coklat-karamel yang dituangkan secara artistik dan tak lupa irisan strawberry dan jeruk yang kombinasi warnanya sangat menarik. Baru sepotong kugigit, airen-ku terlihat kurang nyaman dengan hidangan di depannya. Ya, seperti sudah kuduga pula, Hanis salad yang dia pesan memang tidak bisa diterima lidahnya. Walaupun sebenarnya penampilannya cukup menggoda : daun selada, tomat, jagung, ikan marlin fresh (baca : mentah) yang masih merah muda, butiran buah zaitun hitam dengan dressing bergaya mediteran, minyak bawang putih. Melihat airen-ku tidak menyukai pesanannya, aku memutuskan bertukar dengannya, karena aku yakin dia masih bisa menerima fried banana ku. Aku pernah makan salad serupa di Nanamia Pizzeria, sebuah kedai pizza bergaya original Italia di daerah Demangan, dan pada saat itu aku kurang menyukai cita rasanya. Dan malam itu, di Hanis, lidahku belum berubah, sayurannya is oke…tapi dressingnya, ya ampun, menurutku mendhing pake sambal pecel (maklum orang kampung). Yeah begitulah, makan malam di Hanis, sangat berkesan, karena sangat menguras isi kantong (sekali lagi ini perspektif mahasiswa lho…), walopun awalnya agak menyesal, tetapi pelajaran berpikir positif membuat kami bisa menerimanya dengan legowo. Setidaknya menambah referensi dan pengalaman kuliner (makan malam di restaurant of the month bulan Januari lho! keren kan?). Ini namanya defense mechanism yang disebut sweet lemon…(baca buku psikologi atau tanya kepada mahasiswa psikologi terdekat…hehe).
oh,, Hanis yang itu ya…? emang ketoke eksklusif banget sih..
jadi,, berapa rupiah yang kalian keluarkan di sana..?? hoho.,,
By: anginbiru on January 25, 2009
at 12:33 am
haha…pokoke cukup menguras dompet hingga bikin harus ngirit makan selama beberapa hari setelah itu,…tp ya itung2 melancarkan program diet…haha
By: yuda on January 25, 2009
at 9:17 am
nice story
but,kliatanya dlm penentuan rumus indeks masa tubuhnya agak ambigu dey…coba cek lagi!!kurang satuan tu!!!
berat dlm kilo gram (kg) n tinggi dalam m(meter) klo g salah
ok dude?!
increase ur speaking n writing ability y!!!!
keep pray n gbu
By: septian meru on January 25, 2009
at 7:18 pm
thanks…udah ditambahi satuannya…
By: Yuda Hananta on January 25, 2009
at 7:29 pm
hmm,, mending makan lotek aja deh…! ndak usah reko2 coba2 makan di tempat asing.. wkekeke,,
By: anginbiru on January 26, 2009
at 5:50 pm
yudh
aq bru tau u pny blog ini. so, aq mau komentar bnyk.
yg pertama aq seneng bgt u msh tetep ndeso kyak dlu
yg kdua wisata kuliner tuh mang asik bgt
aq skrg lg nyoba menaklukkan tempat2 kuliner di solo
rencananya bentar lg mau merambah jogja.
ada rekomendasi ga?
hehe
btw, nice blog
keep up
By: shebe on February 26, 2009
at 10:02 pm