Posted by: Yuda Hananta | January 24, 2009

Inspirasi

Saat posting-an ini ditulis saya sedang menyaksikan acara “Biography” di Metro TV yang sedang menampilkan Barrack Obama sebagai tokoh yang dibahas cerita hidupnya. Di acara itu disampaikan juga sejarah hidup Sang Presiden Amerika Serikat yang baru tersebut, mulai dari cerita tentang orang tuanya, kehidupan akademik dan karirnya hingga saat ini. Salah satu yang sangat menarik adalah perhatian Obama yang sangat besar terhadap persamaan hak kaitannya dengan identitas seseorang. Seperti banyak orang ketahui, Barrack Obama adalah seseorang yang lahir dari sebuah keluarga yang multikultural. Ayahnya, Barrack Obama Sr., adalah seorang berkulit hitam berkebangsaan Kenya, sementara ibunya, Mrs. Ann Dunham, seorang warga negara Amerika Serikat berkulit putih. Ayah dan ibu-nya bertemu saat sama-sama menempuh perkuliahan di University of Hawaii, mereka menikah kemudian menetap di Hawaii hingga lahirlah Barrack Obama. Setelah ayahnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan doktoral ke Harvard, ayah dan ibu Barrack Obama memutuskan untuk berpisah. Selang beberapa tahun, Mrs. Ann Dunham, sang ibu, bertemu dengan Lolo Sutoro, seorang mahasiswa Indonesia yang saat itu juga sedang menempuh pendidikan di University of Hawaii, hingga kemudian Ann menikah dengan Lolo dan melahirkan Maya Sutoro, adik tiri Barrack Obama. Keluarga itu kemudian menetap di Jakarta, Indonesia. Barrack Obama pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia, sebelum ibunya mengirim dia kembali ke Hawaii (yang disebutkan oleh sang narator untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik…hiks…menohok). Di Hawaii, Obama kecil tinggal bersama neneknya, terpisah dengan ibu dan saudara tirinya di Jakarta. Kemudian, karena sesuatu hal, Lolo Sutoro dan Ann memutuskan untuk berpisah, dan Ann bersama Maya kembali ke Hawaii. Itu baru sepenggal cerita, tetapi inti dari cerita yang menarik ini yang ingin aku bahas disini adalah, sejak kecil Obama telah mengenal keberagaman dalam keluarganya, dia mengatakan dia pernah tumbuh sebagai anak Kenya, Hawaii, Indonesia, dan hingga berujung di Amerika. Dia pernah mengalami keraguan identitas saat masa kecilnya, tetapi hal itu tidak lama dia pendam, dia bangkit dari keraguannya, menegaskan identitasnya dan meraih keberhasilan yang begitu mengagumkan : kuliah hukum di Harvard, Senator Negara Bagian Illinois, hingga sekarang sebagai Presiden Amerika Serikat. Barrack Obama, sering mengalami olok-olokan tentang identitasnya, mulai dari teman-teman sekolahnya yang memandangnya aneh hanya karena menjadi satu-satunya anak berkulit hitam di kelas, hingga lawan politiknya di Senat yang mempergunakan isu rasisme untuk menjatuhkannya. Tetapi Obama berhasil melewati itu semua, dia terus melangkah tanpa mempedulikan pandangan miring orang mengenai identitasnya, warna kulitnya, asal-usulnya, agamanya, dll.

Mengapa cerita ini begitu berarti bagiku? Jika Anda sempat membaca postingan sebelumnya berjudul “Identity“, sedikit banyak Anda pasti memahami. Saya pun berasal dari keluarga yang heterogen, setidaknya begitulah saya memandang diri saya sendiri : ayah saya seorang laki-laki Bali beragama Hindu, ibu saya seorang wanita Muslim Jawa. Saya tumbuh dewasa dengan pengaruh dari kedua budaya tersebut. Sangat sering orang mengernyitkan dahi saat mencoba memahami identitas saya…ya…nama saya I Putu Yuda Hananta, saya tinggal di Karanganyar di luar kota Solo, dan saya Muslim, ayah saya orang Hindu Bali, ibu saya Muslim Jawa. Saya mencoba sedapat mungkin tidak bersikap menyinggung SARA, sekedar untuk memperjelas deskripsi saja. Heran, itu reaksi yang umum, yang lebih parah adalah saat beberapa (agak banyak) orang yang mengenal saya agak menyangsikan identitas saya, dengan mengemukakan opini negatif…sangsi dengan ke-Islam-an saya (dengan kata lain, beneran engga tu Muslim??? ini pendapat sebagian teman-teman Muslim saya…), atau juga ada yang tidak menyetujui ke-Muslim-an saya saat tahu saya bernama Bali, saya dianggap tidak tahu asal-usul (yang ini biasanya pendapat orang-orang Hindu Bali yang mengenal saya…). Awalnya saya sangat terganggu dengan opini-opini tersebut, emosi saya sempat beberapa kali terpancing  saat menghadapi orang-orang seperti itu. Saya pernah sangat marah saat orang-orang mencibir identitas saya, bahkan saya pernah dikatakan anak haram, dengan alasan pernikahan ayah dan ibu saya dianggap tidak sah karena berbeda agama.

Tapi itu dulu…Saya sudah jauh memperbaiki pola pikir dan menata emosi saya. Dan yang mengubah pola pikir saya ya cerita-cerita orang seperti Barrack Obama ini. Dengan latar belakang yang justru sebenarnya sangat unik. Banyak orang seperti itu yang menginspirasi saya selain Barrack Obama, seperti juga Presiden Soekarno, yang ayahnya dari Jawa dan ibunya seorang wanita Bali. Mereka sama-sama memiliki identitas yang unik dan keduanya sama-sama mencapai kesuksesan, kuncinya adalah kepercayaan diri. Ya…keunikan identitas itu, jika kita mau berpikir positif, adalah potensi, kekuatan, bukan keanehan seperti dikatakan beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab. Keunikan itu membuat kita berbeda dengan orang lain, beda dalam artian kita istimewa, analoginya layaknya kita melihat seseorang memakai baju merah di kumpulan orang berbaju hitam, tentu si baju merah akan menjadi pusat perhatian.

Begitulah, Barrack Obama, Soekarno, dan manusia-manusia istimewa lainnya telah berhasil menunjukkan pada dunia bahwa identitas mereka adalah potensi mereka. Semoga I Putu Yuda Hananta menyusul…amien…


Responses

  1. wah bener2 bisa menjadi inspirasi..mmm jadi ngefans sama obama deh! btw punya posternya nggak?heee..kirimin dong,mau buat ditaruh dikamar disamping fotonya albert einsstein..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.