Suatu ketika seorang mahasiswa pasti menghadapi situasi seperti yang dialami airen-ku beberapa hari terakhir. Perasaan senang bercampur tegang, dengan percikan antusiasme di antara kecemasan (wuih, aneh banget deskripsinya ya?). Perasaan itulah yang kurang lebih dirasakan saat seorang mahasiswa tengah mempersiapkan sidang pendadaran skripsinya. Yepp, besok, tepatnya hari Rabu tanggal 28 Januari 2009, boleh jadi hari yang paling dinantikan oleh airen-ku. Pada hari itu, segenap usahanya selama ini (selama penelitian, bahkan lebih luas lagi selama melaksanakan studi di kampusnya) akan diuji dalam sebuah sidang pendadaran skripsi. Sejak beberapa hari kemarin, meski dia sungguh berusaha menekannya, tetapi aroma kecemasan samar-samar tercium olehku, tentu saja…siapa lagi orang yang paling memahami dirinya? setiap tatapan matanya, gerak tubuhnya, kata-katanya?
Hingga saat kami menghabiskan waktu bersama di Kedai Kopi petang tadi, aku semakin bisa melihat suasana hatinya. Aku tau dia orang yang pemberani, tidak akan gentar menghadapi situasi seperti ini. Tetapi aku tau pasti, momen inilah yang telah dinantikannya selama ini. Menyelesaikan pendidikan di salah satu kampus paling reputable di negeri ini tentu menjadi kebanggaan tak terkira, baginya dan tentu bagi keluarganya.
Skripsi, yang memiliki beberapa nama di beberapa kampus (misal Penulisan Ilmiah, Karya Tulis Akhir, Tugas Akhir, dll) dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia, memang menjadi semacam kunci pembuka pintu gerbang bagi seorang mahasiswa untuk meninggalkan kampusnya. Dilihat dari prosedur pengambilan mata kuliah Skripsi tsb, contohnya ada kampus yang mensyaratkan Skripsi hanya boleh diambil jika mahasiswa sudah menyelesaikan seluruh mata kuliahnya, ada kampus yang mengatur bahwa jika seorang mahasiswa mengambil mata kuliah skripsi maka dia tidak diperbolehkan mengambil mata kuliah lain, ada kampus yang mensyaratkan pendadaran baru bisa dilangsungkan jika semua nilai mata kuliah yang pernah di ambil sudah keluar, dan berbagai persyaratan lain yang garis besarnya menjadikan skripsi sebagai kegiatan pamungkas seorang mahasiswa di kampusnya.
Namun, sebenarnya, apakah kita (para mahasiswa) telah memahami benar maksud adanya mata kuliah Skripsi tsb? Memang benar sebagai kunci pembuka gerbang keluar dari kampus, senjata pamungkas selama kuliah, atau ada maksud lain? Sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada, mengertikah kita tentang maksud kampus menyatakan dirinya sebagai The World Class Research University? Research = penelitian, so apakah sebenarnya fungsi skripsi kita selama ini?
Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran, yang maaf memang agak nyeleneh dibandingkan fakultas lain di lingkungan Universitas Gadjah Mada, maka saya sedikit mengalami perbedaan pandangan dan perasaan dalam menghadapi skripsi (termasuk sidang pendadaran di dalamnya). Di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK-UGM), pada masa saya masih mengikuti pendidikan S-1, kurang lebih periode 2004-2007, seorang mahasiswa sudah diperbolehkan menjalankan penelitian setelah mendapatkan materi Blok 13 : Medical Technology and Research Design pada semester 5, pada waktu itu penelitian sekaligus penyusunan laporan berupa skripsi serta pendadaran telah dapat dilakukan sementara saya terus menjalani materi perkuliahan yang tersisa. Hal itu menjadikan skripsi sebagaimana tugas mata kuliah lain, seperti layaknya menyusun laporan praktikum yang seringkali kami kerjakan. Karena sistem seperti itu, ada beberapa teman yang telah berhasil menyelesaikan skripsinya (sekaligus pendadaran, revisi, dll) pada semester 6, kebanyakan pada semester 7, dan beberapa memang terlambat. Sebagian teman mengerjakan skripsinya begitu cepat, hanya memerlukan 2-3 bulan, sebagian baru menyelesaikan setelah lebih dari satu tahun berkutat dengan skripsinya. Saya mulai merancang penelitian saya pada semester 6, tepatnya Januari 2007 dan kemudian menuntaskan pendadaran pada bulan Desember 2007…yah, kurang lebih 1 tahun untuk menyelesaikan skripsi saya (lama waktu ini termasuk di dalamnya waktu-waktu saat kemalasan datang berkunjung, saat dosen-dosen pembimbing sulit ditemui, dsb). Saya pribadi, meski tetap merasakan kecemasan bercampur antusiasme itu, namun sungguh tidak ada kesan yang membuat saya beranggapan bahwa “this is it!”, skripsi buat saya bukanlah akhir dari kegiatan akademik saya di pendidikan dokter. Pertama, karena memang, secara turun-temurun, dalam benak hampir semua mahasiswa kedokteran telah ditanamkan dogma bahwa pendidikan kedokteran tidak cukup berakhir dengan pendidikan sarjana namun haruslah dituntaskan dengan pendidikan profesi di klinik. Sehingga bahkan sebelum diwisuda pun, kami telah terlebih dahulu menjalani pendidikan profesi dokter (yang biasa disebut koasistensi). Skripsi menjadi semacam salah satu persyaratan saja untuk menjalani tahap pendidikan selanjutnya, banyak syarat-syarat lain : nilai-nilai blok, nilai TOEFL, tes kesehatan, tes psikologi, dan yang paling menentukan adalah Ujian Komprehensif Competence-Based Preparation for Clerkship. Kedua, karena hakikatnya skripsi bukan hanya sekedar syarat lulus, bukan pula kunci gerbang meninggalkan kampus. Tetapi sebuah ilmu yang seharusnya kita pahami. Penelitian adalah sebuah usaha menemukan kebenaran atas suatu dugaan. Betapa pentingnya suatu penelitian dilakukan, demi kemajuan ilmu, demi kemajuan umat manusia. Dengan menyusun skripsi, kita berlatih menyusun suatu usaha penemuan kebenaran. Meski didahului dengan hal-hal kecil, hal-hal sederhana, namun kita mempelajari (dan melakukan) langkah-langkahnya dengan tepat dan seksama. Dengan itu, kita memiliki bekal, agar nantinya setelah kita mengabdi pada masyarakat, kita dapat menerapkan aspek ilmiah dalam memandang suatu fenomena ataupun permasalahan dalam masyarakat.
Meski demikian, memang bagi beberapa teman, skripsi bisa menjadi batu sandungan besar dalam melanjutkan langkah ke pendidikan profesi. Faktornya bermacam-macam, internal dari diri sendiri, substansial dari materi penelitian maupun eksternal dari dosen pembimbing, keluarga, masalah ekonomi, masalah inter-personal dengan pacar, dll. Untuk tantangan ini, menurut saya tentunya tidak hanya dialami teman-teman dari kampus kedokteran. Kampus lain, dengan sistem skripsi-nya masing, tentu menimbulkan tantangan tersendiri bagi mahasiswanya. Tapi toh dari sekian ribu mahasiswa Universitas Gadjah Mada, dengan segala kesulitan yang ada, ujung-ujungnya sebagian besar lulus juga (terlepas dari berapa lama dia harus menempuh bangku perkuliahannya), hanya beberapa yang sedemikian bermasalah hingga timbul dampak yang tidak diinginkan, baik hal-hal yang mengancam jiwa atau mengganggu kesehatan mental. Jadi, apa yang membuat hal ini terjadi?
Bukan soal pengolahan data secara statistik, bukan mengenai setebal apa skripsi Anda, bukan tentang serumit apa penelitian Anda. Intinya adalah, dengan status sebagai mahasiswa, kita sebenarnya telah teruji melewati bermacam halangan pada masa-masa pendidikan sebelumnya. Betapa kerasnya kita berusaha menyelesaikan pendidikan di SMU, membanting tulang, begadang setiap malam demi mendapatkan jurusan impian. Kemudian menempuh pendidikan tinggi yang sarat pelajaran, bukan hanya tentang jurusan dimana kita berada, namun juga pelajaran tentang hidup : adaptasi dengan lingkungan kampus dan kos, konflik yang terjadi dengan teman dan dosen, dilema saat kita harus menentukan berbagai pilihan…Kuncinya adalah belajar. Sebagai manusia, secara normal, kita belajar. Belajar, bukan dari buku yang kita baca, bukan dari slide presentasi dosen, tetapi dari apa yang kita alami setiap hari, dari hal-hal di sekitar kita. Dengan terbiasa menghadapi masalah, kita lama-lama terlatih melakukan manajemen konflik, terasah untuk menentukan pilihan, mampu beradaptasi dengan situasi yang baru. Keterampilan itulah yang menolong kita melewati segala tantangan hidup, termasuk menyelesaikan satu tahap dalam hidup kita yang bernama Skripsi.
PS : buat airen-ku, semangat ya! Satu tahap akan segera kamu lewati, di depan sana masih banyak hal-hal seru dan penuh tantangan, be prepared ya…
wah susaahhh juga mau jd dokter yach?..
By: purwati on January 28, 2009
at 12:15 pm
wuaaa lo mengingatkan gw untk mengerjakan skripsi gw, tenaaang ada yang lbh parah dari lo ko, lo staun kan proses ngerjain skripsinya? naahh gw… blm ngajuin satu judulpun hehehehhehe padahal gw ud masuk stase di rs lg… hohohohohoho
By: ica on December 6, 2009
at 4:59 am